Herakleitos (550-480 SM)

A. Pengantar

Tulisan di bawah ini merupakan sebuah rangkuman singkat dari bab empat dalam buku Presocratics, karangan James Warren (2007), yang membahas mengenai pemikiran Herakleitos. Di dalam rangkuman ini, saya juga menambahkan beberapa data atau penjelasan yang diambil dari sumber lain sebagai pelengkap. Pada akhir rangkuman, sebagai penutup, saya mencoba menyampaikan pendapat pribadi tentang pemikiran Herakleitos dalam tulisan James Warren.

B. Riwayat Hidup Herakleitos

Herakleitos (Ηράκλειτος) adalah seorang filsuf Yunani yang hidup pada tahun 550-480 SM, abad 6-5 SM. Tidak banyak data sejarah yang medeskripsikan kehidupan filsuf ini. Dia hidup di Efesus (Προς Εφεσίους), sebuah kota penting di Pantai Ionia, Asia kecil, tidak jauh dari Miletus, tempat kelahiran filsafat.[1] Dirinya dikenal sebagai Si Gelap (το σκοτάδι) karena perkataannya yang sukar dipahami artinya dan “nama itu menunjuk pesimisme yang ada padanya”. “Pesimisme ini ditimbulkan dari keadaan politik pada waktu itu atau akibat pengajarannya tentang kefanaan dunia”.[2] Fragmen-fragmennya yang ditemukan ditulis dalam bentuk kalimat-kalimat yang estetis dan rumit sehingga bisa menyebabkan salah penafsiran bagi pembacanya. Hal ini adalah kekhasan dalam diri Herakleitos karena dia memang mencoba mengungkapkan pemikirannya dalam bentuk puisi atau epigram yang elegan. Dalam hidupnya, Herakleitos mengabdikan diri untuk mendalami filsafat lewat pemikiran-pemikirannya yang bersifat spekulatif.

C. Pemikiran Herakleitos

Herakleitos seringkali dikenal dengan pemikiran-pemikirannya mengenai perubahan dalam kosmos dan keseimbangan yang ada di dalamnya. Dia juga banyak mengulas mengenai pertentangan yang ada di dunia. Ini diutarakannya lewat ungkapan bahwa perang adalah bapak dari segala-galanya [Πόλεμος πάντων μὲν πατήρ ἐστι] (DK 22 B53, Hippolyte,Réfutation de toutes les hérésies, IX, 9, 4.). Pernyataan ini ingin menegaskan bahwa dalam pertentangan yang terdapat di alam semesta tercipta sebuah harmoni kehidupan.

C.1. Logos

DK 22 B50 (Hippolyte, Réfutation de toutes les hérésies, IX, 9, 1.) “It is wise to hearken, not to me, but to my Word, and to confess that all things are one.” [οὐκ ἐμοῦ, ἀλλὰ τοῦ λόγου ἀκούσαντας ὁμολογεῖν σοφόν ἐστιν ἓν πάντα εἶναι][3]

Herakleitos menginginkan supaya para pendengarnya tidak terperangkap untuk mendengarkan dia saja. Dia meminta agar mereka mendengarkan logositu sendiri. Dalam Bahasa Yunani, kata logos (λογότυπα) bisa berarti sebuah kata atau sebuah pernyataan. Kata ini juga dapat memiliki arti sebagai sebuah perhitungan cermat, evaluasi, relasi atau ketersalingan, atau rasio. Dapat dikatakan bahwa logos merupakan proses pemikiran manusia sendiri. Namun, ketika berjumpa dengan logos dalam alam pemikiran Herakleitos, pembacanya akan masuk ke dalam berbagai macam bentuk tafsiran. Bisa jadi tafsiran atau interpretasi mengalami bias atau malah tidak dimengerti sama sekali. Sebab, Herakleitos sendiri mengatakan bahwa orang-orang (pendengarnya) tidak dapat memahami apa yang dimaksudkannya denganlogos itu. Bahkan, dia juga mengungkapkan bahwa mereka salah mengerti tentang logos, baik sebelum mendengarnya maupun ketika pertama kali mendengarnya. Ternyata, mengenai hal ini, James Warren berpendapat bahwa kita mesti memisahkan antara logos yang menjadi isi dari apa yang menjadi karya Herakleitos dan logos yang adalah karya Herakleitos itu sendiri. Jelas sekali bahwa untuk sampai pada gagasan yang dimaksudkan oleh Herakleitos pendengarnya perlu bertekun untuk sungguh mendengarkan perkataannya.

Untuk memperjelas pengertian mengenai logos, Herakleitos mengungkapkan bahwa pendengarnya tidak sanggup memahami logos karena mereka hidup dalam dunia mereka sendiri. Mereka tidak sadar bahwa mereka terkungkung dalam alam pemikiran mereka sendiri sehingga tidak dapat membuka diri pada logos. Padahal dalam pandangan saat itu, bisa dikatakan bahwa logosmenjadi sumber dari segala sesuatu yang terjadi di alam semesta ini. Herakleitos, lewat pemikirannya, ingin mendorong, mengusik, dan mendesak pendengarnya untuk menjadi sadar dan berpikir secara lebih luas tentang dunia sekitarnya.

C.2. Api

Herakleitos adalah sosok pribadi yang terpesona dengan perubahan dan transformasi yang terjadi di alam semesta ini. Bukti nyata yang menunjukkan keterpesonaannya ini adalah uraian pemikirannya tentang API (πυρκαγιάς). Herakleitos berpandangan bahwa kosmos (σύμπαν) ini terbentuk dari API. API-lah yang menyebabkan terjadi berbagai perubahan di alam semesta. Cara berpikir ini adalah kekhasan orang-orang sezamannya yang mencari materi utama (phusis) dari dunia ini. Demikian pula dengan Herakleitos, dia memahami bahwa dunia ini dibentuk dari perubahan-perubahan yang nyata terjadi pada API. API yang dimaksud oleh Herakleitos ini bukan api yang ditemukan dalam kehidupan sehari-hari manusia pada umumnya. Herakleitos ingin menunjukkan bahwa API ini memiliki daya-daya untuk menciptakan sesuatu lewat panas dan pijar cahanya. Hal ini dinyatakan dalam fragmennya: Kosmos ini, sama bagi semua, tidak pernah dibuat oleh manusia maupun tuhan, kosmos ini selalu ada, sekarang ada, dan aka nada seperti api yang selalu hidup, menyala dan meredup sesuai masanya[4] (DK 22 B30, Klemens dari Alexandria, Stromata V, xiv, 104. 1).

Herakleitos memandang API secara istimewa karena API dipahaminya sebagai unsur penting yang memengaruhi kosmos. Pengaruh yang diberikan oleh API ini adalah siklus tetap perubahan yang terjadi di alam semesta. Semuanya yang ada dibentuk dan berasal dari api sebagai sumber utamanya karena “Segala sesuatunya dapat dipertukarkan dengan API, dan API adalah alat tukar bagi segala sesuatu, sama halnya semua harta milik bisa dipertukarkan dengan emas, dan emas dengan segala harta milik (DK 22 B90, Plutarchus, De E Delpico, p. 388e)[5]”. API juga dipahami sebagai sesuatu yang sanggup memisah-misahkan dan merengkuh semua hal sekaligus. Karena itulah, Herakleitos melihat API sebagai sesuatu yang dinamis, yang sanggup memberikan tranformasi nyata bagi kehidupan dalam kosmos dankosmos itu sendiri.

C.3. Harmoni

Herakleitos memiliki pemikiran yang menarik mengenai harmoni (αρμονία). Dia melihat bahwa semua perubahan berasal dari API dan rangkaian perubahan yang terjadi ini menciptakan kesatuan dalam suatu waktu tertentu. Pandangan ini memengaruhi alam pemikirannya sehingga dia pun memiliki pandangan akan sesuatu yang dinamis di alam semesta ini. Maksud dari sesuatu yang dinamis di sini adalah keberadaan perlawanan-perlawanan yang sebenarnya terdapat dalam satu hal yang sama. Kesatuan yang ada tersebut justru dibentuk dari apa yang saling bertentangan dalam pandangan manusia pada umumnya. Perbedaan-perbedaan di alam semesta ini dipahami sebagai sebuah rangkaian yang memiliki keterkaitan satu sama lain. Selain itu, apa yang satu, dalam alam pemikiran Herakleitos bisa ditangkap sebagai hasil dari dua hal yang berbeda. Sebagai contoh yang sering kali diutarakan antara lain: ὁδὸς ἄνω κάτω μία καὶ ὡυτή.[6] “… jalan yang naik dan turun adalah satu jalan yang sama.” (DK 22 B60, Hippolyte, Réfutation de toutes les hérésies, IX, 10, 4.)[7] atau “Hidup atau mati, bangun atau tidur, muda atau tua, semua sama saja, karena masing-masing berubah ke lawannya dan sebaliknya.” (DK 22 B88, Plutarchus, Consolation d’Apollonius, 106 E. )[8]. Pernyataan ini ingin menunjukkan bahwa pada dua hal yang berbeda terdapat kesatuan yang menjadi hakikat dari suatu hal. Meski dua hal tersebut berlawanan sekalipun tetapi tetap saja diakui sebagai satu kesatuan.

Secara menarik, James Warren mencoba menggambarkan pemikiran Herakleitos ini dengan harmoni pada alat musik yang berdawai. Tegangan karena perbedaan yang terjadi pada dawai itulah yang menghasilkan sebuah harmoni yang dapat dinikmati. Hal ini berlaku juga pada pernyataan bahwa yang satu mendapat arti dan makna dari yang lainnya. Realitas bahwa kesehatan adalah kondisi yang berharga mendapat penegasan dari lawannya, yakni keadaan sakit. Demikian pula, rasa kenyang mendapat makna karena adanya rasa lapar pada manusia. Jadi, disimpulkan bahwa hal-hal yang bertentangan ini merupakan suatu kesatuan yang saling melengkapi satu sama lain.

Pemikiran ini pula yang kemudian mendasari ajaran Herakleitos mengenai para dewa, manusia, kehidupan dan kematian. Dalam ajarannya itu Herakleitos banyak membahas mengenai ketidakabadian dan keabadian. Berkaitan dengan itu, dia tertarik untuk membahas mengenai siklus kehidupan dan kematian manusia. Dalam salah satu fragmennya, dia membandingkan kehidupan dan kematian dengan siklus harian dari bangun dan tidur[9]. Baginya kesatuan antara kehidupan dan kematian di dunia ini adalah gambaran perubahan dari waktu ke waktu dan menjadi prinsip dari kesatuan. Dia mengajak pendengarnya untuk merenungkan secara mendalam dan mengambil sebuah pengertian tentang hidup mereka di dunia ini. Namun, Herakleitos tidak memberi keterangan lebih lanjut mengenai kehidupan setelah kematian karena dia menyadari bahwa dia sendiri masih hidup dan belum mengalami secara langsung kematian itu sendiri.

C.4. Sungai

DK 22 B91 (Plutarchus, Sur l’E de Delphes, 392 B.) “Kamu tidak mungkin masuk dua kali ke dalam sungai yang sama” [ποταμῷ γὰρ οὐκ ἔστιν ἐμϐῆναι δὶς τῷ αὐτῷ καθ΄.][10]

Herakleitos mengajarkan bahwa dunia yang ada ini senantiasa berubah dari waktu ke waktu. Ajaran ini terkenal dengan slogan panta rhei (Πάντα Ρει), semuanya mengalir. Pemikiran Herakleitos ini menegaskan bahwa tidak ada yang stabil sama sekali karena terjadi perubahan terus menerus di alam semesta. Perubahan itu sendiri merupakan siklus yang akan selalu terjadi dalam kosmos. Perubahan yang terjadi ini mengambil sungai yang mengalir sebagai contoh untuk menggambarkan bagaiman air terus bergerak dan tidak tetap. Namun, menurut James Warren, kebingungan terjadi sewaktu menginterpretasikan fragmen mengenai sungai ini. Pertanyaan yang muncul adalah apakah yang dimaksud dengan sungai oleh Herakleitos itu sungai itu sendiri atau air sungai yang mengalir. Kemudian diyakini bahwa yang ditunjuk adalah aliran dalam sungai. Sebab, sungai itu sendiri disebut sebagai sungai karena memang terjadi aliran air pada sungai. Karena itulah sungai dapat dibedakan dengan danau. Hal yang menarik, masih mengenai sungai, pandangan Herakleitos ini sempat ditafsirkan secara lebih ekstrem oleh pengikutnya, Kratylos. Kratylos ini malahan berpandangan bahwa tidak mungkin manusia masuk ke dalam sungai yang sama bahkan untuk pertama kalinya.

Pada intinya, menurut James Warren, contoh sungai yang diambil oleh Herakleitos dalam fragmennya ingin menunjuk pada perubahan yang terjadi pada diri manusia. Pribadi manusia yang hidup di alam semesta ini mengalami perkembangan secara bertahap. Manusia lahir, betumbuh, menjadi tua, dan akhirnya meninggal. Perkembangan itulah yang disebut sebagai perubahan. Dalam mengalami perkembangannya itu, manusia tetap berada di alam semesta yang juga mengalami siklus perubahan.

D. Pandangan tentang Pemikiran Herakleitos

Hal pertama yang muncul ketika pertama kali masuk dalam alam pemikiran Herakleitos adalah kebingungan. Ungkapan-ungkapan yang mengutarakan gagasannya sukar untuk dipahami dengan sekali membaca. Namun, uraian James Warren setidaknya memberi deskripsi yang baik tentang apa yang ingin disampaikan oleh Herakleitos. Saya terbantu lewat pemaparannya yang masuk akal dalam menafsirkan pandangan Herakleitos. Yang menarik adalah keterpesonaan, kecermatan pengamatan, dan cara pengungkapan gagasan yang dimiliki Herakleitos. Karena keterpesonaannya, dia mencermati apa yang terjadi di dalam kosmos dan menarik sebuah korelasi keterikatan antara satu dengan yang lainnya dalam menghasilkan perubahan. Itu semua diungkapkannya dengan indah dalam kalimat-kalimat ringkas yang bisa disalahmengerti karena menimbulkan banyak arti.

Ajarannya yang penting bagi kehidupan sehari-hari, secara konkrit, adalah kesadaran akan kehidupan yang berlangsung di alam semesta dan pentingnya keselerasan lewat perbedaan. Menyadari apa yang sedang terjadi dan berlangsung di sekitarnya membuat manusia hidup secara utuh dan sadar bahwa dirinya benar-benar hidup dan berkembang. Sedangkan keselarasan lewat perbedaan membuat manusia memahami arti penting kehidupan, kesehatan, kedamaian, dan kebalikannya, kematian, rasa sakit, dan peperangan. Itu semua telah ada, sedang berlangsung, dan akan terus berjalan di alam semesta.

Sumber Utama                                      :

Warren, James, Presocratics, Stockfield: Acumen, 2007.

Pustaka Pendukung                              :

Sudiarja, Antonius, dkk. (eds.), Karya Lengkap Driyarkara: Esai-esai Filsafat Pemikir yang Terlibat Penuh dalam Perjuangan Bangsanya, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2006.

Sumber Pendukung dari Internet         :

http://community.middlebury.edu/~harris/Philosophy/heraclitus.pdf(diunduh pada hari Senin, 18 Oktober 2010, pk. 20.30 WIB)

http://philoctetes.free.fr/heraclite.pdf (diunduh pada hari Senin, 18 Oktober 2010, pk. 21.50 WIB)

http://www.iep.utm.edu/heraclit/ (diunduh pada hari Sabtu, 16 Oktober 2010, pk. 15.30 WIB)

http://www.thebigview.com/greeks/heraclitus.html (diunduh pada hari Senin, 18 Oktober 2010, pk. 22.00 WIB)

salemba. 2010


[1] http://www.iep.utm.edu/heraclit/, Daniel W. Graham, Brigham Young University, Heraclitus (fl. c.500 BCE), 1. Life and Times, “Heraclitus lived in Ephesus, an important city on the Ionian coast of Asia Minor, not far from Miletus, the birthplace of philosophy.” (diunduh pada hari Sabtu, 16 Oktober 2010, pk. 15.30 WIB)

[2] Sudiarja, Dr. Antonius, dkk. Karya Lengkap Driyarkara: Esai-esai Filsafat Pemikir yang Terlibat Penuh dalam Perjuangan Bangsanya, (2006), Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 5. Herakleitos (± 540-475), a. Riwayat Hidup, hlm. 1096

[3] http://philoctetes.free.fr/heraclite.pdf Fragment 50 , hlm. 7, (diunduh pada hari Senin, 18 Oktober 2010, pk. 21.50 WIB)

[4] Terjemahan DK 22 B30 dalam Bahasa Indonesia diambil dari diktat mata kuliah Sejarah Filsafat Yunani, Dr. Setyo Wibowo, Herakleitos, hlm. 13

[5] Terjemahan DK 22 B90 dalam Bahasa Indonesia diambil dari diktat mata kuliah Sejarah Filsafat Yunani, Dr. Setyo Wibowo, Herakleitos, hlm. 13

[6] http://philoctetes.free.fr/heraclite.pdf Fragment 60, hlm. 9, (diunduh pada hari Senin, 18 Oktober 2010, pk. 21.50 WIB)

[7] Terjemahan DK 22 B60 dalam Bahasa Indonesia diambil dari diktat mata kuliah Sejarah Filsafat Yunani, Dr. Setyo Wibowo, Herakleitos, hlm. 14

[8] Terjemahan DK 22 B88 dalam Bahasa Indonesia diambil dari diktat mata kuliah Sejarah Filsafat Yunani, Dr. Setyo Wibowo, Herakleitos, hlm. 14

[9] Bdk. DK 22 B21, Clément, Stromates, III, 3, 21, 1.

[10] http://philoctetes.free.fr/heraclite.pdf Fragment 91, hlm. 13, (diunduh pada hari Senin, 18 Oktober 2010, pk. 21.50 WIB)

==================

Dalam kalangan para filsuf, Heraklitus seorang filosof yang sangat kontroversi, bukan saja Parmenides yang mengkritiknya, tetapi juga filsuf-filsuf lain pada zaman itu. Karena sulitnya mengerti maksud pikiran Herakleitos (baik dimasa sekarang maupun dimasa para filsuf dahulu) ia pun dijuluki dengan nama “si Gelap” (ho skoteinos) . Pertentangan antara Heraklitus dan Parmenides termasuk pada persoalan gagasan tentang perubahan yang konstan atas segala sesuatu . Heraklitus berbeda dengan Parmenides, ia menekankan pada indra lahir. Heraklitus melontarkan gagasan tentang perubahan yang konstan atas segala sesuatu dan berkeyakinan bahwa dengan adanya perubahan yang terus menerus pada segala sesuatu, maka perolehan ilmu menjadi hal yang mustahil, karena ilmu memestikan kekonstanan dan ketetapan, akan tetapi, dengan keberadaan hal-hal yang senantiasa berubah itu, maka mustahil terwujud sifat-sifat khusus dari ilmu tersebut. Untuk hal ini, saya menganggap pemikirannya sebagai dasar Skeptisisme.

Mengenai alam semesta ia berpendapat, “ Tiada sesuatu hal pun yang betul-betul ada, semuanya menjadi”. Atas landasan bahwa alam semesta ini memang ‘semuanya menjadi’, maka saya mendukung pendapat Herakleitos ini. Artinya bisa dijelaskan bahwa, sebelumnya segala sesuatu itu, telah ada sebagai bahan dasar untuk beranjak ke ‘proses menjadi’ tersebut. Untuk membuat sesuatu hal yang baru, memang harus memerlukan bahan dasar untuk membentuk: ‘Apa yang akan kita pikirkan atau rencanakan’. Bagaikan membuat suatu kursi, kita harus memerlukan kayu atau besi dan juga bahan-bahan lain yang menunjang untuk membuat kursi tersebut. Maka bagi saya, alam semesta ada karena ada sesuatu yang sudah ada sebelumnya. Dan perkataan ini, sama halnya dengan pandangan Andrew Lang terhadap kepercayaan akan allah. Ia mengatakan bahwa, “ sebelum atau kepercayaan asli ini terbentuk, sudah ada yang tertinggi atau supreme being.” , sama halnya dengan alam semesta ini yang mulai mengalami proses menjadi, maka ada sesuatu yang sudah ada terlebih dahulu.

Pada hal lain dari pengalamannya sebagai filosof, Heraklitus mengambil suatu sudut pandang yang sangat rumit untuk dimengerti para filsuf lainnya. Ia berpendapat bahwa alam semesta adalah sesuatu yang berlawanan satu sama lain. Ia mengatakan bahwa, “ Tiap-tiap benda terdiri dari hal-hal yang saling berlawanan dan hal yang berlawanan itu mempunyai kesatuan. Singkatnya satu adalah banyak dan banyak adalah satu”. Dari pendapat ini, salah satu filosof bernama Anaximandros berpendapat bahwa pertentangan dinilai sebagai suatu ketidakadilan: “ Musim panas mengalahkan musim dingin dan sebaliknya.”. Heraklitus mengambil beberapa contoh dengan sudut pandang yang berbeda, mengenai perlawanan untuk mengadu argumentasi dengan Anaximandros. Dalam perdebatan itu, Heraklitus berpendapat bahwa, “ Musim panas mempunyai arti yang spesifik, karena adanya musim dingin dan juga sebaliknya, siang sekan-akan ‘menjadi’ karena adanya malam.”

Inti perdebatan ini, memang sulit untuk dijelaskan atau dijalankan, akerna menyangkut suatu sudut pandang yang berbeda-beda. Anaximandros mengenai kejadian alam semesta mengatakan pendapatnya: “ to apeiron-yang tidak terbatas.” (peras: batas). Apeiron itu bersifat ilahi, abadi, tidak berubah (Bertens). Dari pendapat Aniximandros itu, saya menilai bahwa alam semesta itu adalah sesuatu yang paling ilahi, abadi dan merupakan misteri yang mendasar.

Heraklitus sendiri memiliki pendapat yang ‘sangat lain’. Penglihatannya mengenai hal ini hanya terpaku pada realita yang terjadi di alam semesta ini. Inilah sebabnya, dalam perdebatan anatara Heraklitus dan Aanaximandros, keduanya tidak menemukan titik terang atau titik penyelesaiannya. Mereka memandang dengan sudut pandang yang berbeda. Di lain sisi, Heraklitus melihat suatu keadilan berdasarkan perjuangan, sedangkan Anaximandros memandang keadilan harus berdarakan nilai moral-sosial. Hal tersebut jelas menyimpulkan, bahwa kedua pandangan ini mengalami benturan satu sama lain. Namun dikaitkan dengan dunia masa modern ini, apa yang dikatakan Heraklitus masih sungguh relevan, walaupun di lain sisi juga sanagt bertolak belakang dengan apa yang dikatakannya. Memang, kita melihat dan menafsirkan pendapat Heraklitus ada nilai positifnya, bahwa pada zaman sekarang untuk menentukan yang benar dan salah atau menang dan kalah hanya dapat diperoleh melalui suatu perlawanan. Sebuah contoh dalam Ilmu Politik, untuk mendudukkan satu kursi kekuasaan, seseorang harus melalui perdebatan dan perlawanan yang begitu hebatnya. Misalnya saja perdebatan sengit antara pasangan John McCain dengan Barack Obama dalam kampanye pemilu Presiden yang berakhir dengan kemenangan Obama. Menurut saya, dunia zaman ini memerlukan suatu perlawanan, sebab kalau tidak ada perlawanan, maka akan meucul suatu bentuk kekuasaan yang otoriter. Kita harus jeli melihat segi-segi yang tidak menguntungkan, bahwa segala sesuatu yang akan ‘menjadi’ tetapi hanya berdasarkan atas perlawanan akan terjadi, ketidakseimbangan, keserasian, dan kedamaian, pasti tidak akan terjamin. Perlawanan dan pertentangan itu akan selalu muncul. Dari hal itu akan timbul ketidakadilan didalam dunia ini. Sama halnya dengan alam semesta ini, seandainya segalanya berlawanan, maka tidak ada sesuatu yang namanya ‘proses menjadi’. Kita melihat kembali musim panas dan musim dingin sebagai sesuatu yang berlawanan. Menurut ilmu Alam, musim adalah suatu kondisi perputaran dalam lingkaran medio yang memberikan jeda waktu kepada musim lainnya, seperti skema dibawah ini :

Jika pada kenyataannya perputaran musim adalah demikian yang digambarkan diatas, maka sangatlaj jelas, bahwa terjadinya musim panas tidak bisa dilepaskan dari hubungannya dengan musim sebelumnya. Sehingga benar pendapat Heraklitus. Saya pun menarik kesimpulan dari pendapatnya bahwa “ Segala sesuatu yang ada, hanya proses menjadi dari sesuatu yang sebelumnya memang telah ada.”

2 thoughts on “Herakleitos (550-480 SM)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s